Tarawangsa Dari Bumi Rancakalong


Tarawangsa Dari Bumi Rancakalong
                Konon dahulu kala, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang ditimpa musibah yang membuat warganya panik luar biasa. Sebab musabab kepanikan tersebut karena hilangnya butiran padi dari dalam kulitnya. Padi yang ditanam tumbuh, tetapi tidak berisi. Akibatnya, masyarakat mengalami kekurangan pangan, kelaparan dan berbagai jenis penyakit. Hingga tiba kemudian para tokoh desa berembuk dengan satu tujuan yakni bagaimana dan dimana mendapatkan bibit padi. Pada masa itu, Mataram dikenal sebagai lumbungnya bibit padi. Oleh karena itu, berangkatlah para utusan dari Desa Rancakalong menemui Ratu Mataram. Setelah mendapat bibit padi, diperjalanan para utusan dihadang begal (perampok), maka untuk membawa bibit padi tersebut, Embah Jatikusumah menciptakan dua buah alat musik yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk membawa benih padi dengan cara memasukannya ke dalam lubang resonator yang terdapat pada bagian belakang alat tersebut. Alat musik tersebut di beri nama Jentreng dan Tarawangsa.
Tarawangsa memiliki dua pengertian. Pertama, sebagai alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi. Kedua, merupakan nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda. Tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kacapi, yang disebut jentreng.Tarawangsa punya dua kawat sebagai perlambang Sang Pencipta selalu menciptakan makhluk berpasang-pasangan. Sedangkan jentreng berdawai tujuh. Bila seluruh digabung jumlahnya sembilan sama dengan jumlah wali penyebar Islam di tanah Jawa.
Sampai saat ini, kedua alat kesenian tersebut dijadikan simbol ucapan syukur kepada sang gaib atas keberhasilan utusan membawa bibit padi tersebut. Masyarakat rancakalong memainkan kedua alam musik tersebut disertai tarian,sesajen untuk menghormati dewi kesuburan, Dewi Sri (Nyi Pohaci). Jadi Nyi Pohaci adalah berkah hidup masyarakat Sunda. Dari kematiannya tumbuh kehidupan yang membawa berkah pada umat manusia. Tanpa Nyi Pohaci, masyarakat Sunda tidak memperoleh sumber kehidupannya. Itulah sebabnya masyarakat Sunda di zaman pertaniannya, amat menghormati Nyi Pohaci. Agar sang dewi tetap ada dan menjaga kesuburan dan kehidupan masyarakat Rancakalong dalam setiap panen padi melakukan ritual ngalaksa,yakni ungkapan rasa syukur pada Yang Maha Esa atas hasil panen yang telah diperoleh. Dalam upacara tersebut digelar kesenian tarawangsa sebagai media penghubung antara alam mahkluk halus dengan alam manusia. Musik ritual tarawangsa mengantarkan masyarakat pendukungnya (orang-orang yang menari) pada keadaan alam bawah sadar hingga trance (tak sadarkan diri).
Musik yang dialunkan seakan membawa penari ke dalam ruang sakral yang tidak kasat mata. Keyakinan bahwa sesembahan mereka telah diterima oleh sang gaib ketiak panri-penari sudah bersatu dengan ruh yang tampak dari fenomena tak sadarkan diri. Penghormatan akan konsep ruh tidak dapat kita lepaskan dari kepercayaan animisme yang sampai sekarang masih dianut di berbagai daerah. Kepercayaan animisme (dari bahasa Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahawa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pokok atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.Masyarakat Rancakalong menganggap ruh/gaib dengan dunia manusia merupakan satu kesatuan dalam irama kosmik yang teratur.
Dalam masyarakat sunda, praktik-praktik sinkretis dan mistik memang masih mewarnai kehidupan masyarakatnya. Kehidupan suku sunda ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta. Keseimbangan magis dipertahankan dengan upacara adat. Sedangkan keseimbangan sosial dipelihara melalui saling memberi (gotong royong). Sehubungan dengan hal itu pula bahwa orang Sunda menganggap bahwa dunia ini dipandang sebagai kesatuan kosmis yang artinya setiap unsur yang ada di dunia ini saling berhubungan. Oleh sebab itu pada masyarakat Sunda hal-hal yang religius selalu bertalian dengan upacara-upacara ritual (dengan hal-hal yang bersifat suci) atau berhubungan dengan super natural (hal-hal yang di luar kemampuan akal pikiran manusia). Karena itulah banyak sekali pamali, cadu, buyut, ialah larangan-Iarangan yang diwariskan turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya, yang bila dilanggar tidak hanya membawa akibat bahkan malapetaka bagi pelanggarnya, tetapi bagi seluruh masyarakat dimana ia tinggal (Hidding: 1935).
Pemain Tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain Tarawangsa dan satu orang pemain Jentreng. Semua pemain Tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 35 – 60 tahunan. Mereka semuanya adalah petani, dan biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukannya ini biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula Saehu/Saman (laki-laki), disusul para penari perempuan. Mereka bertugas ngalungsurkeun (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur. Kemudian hadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan juga ikut menari. Musik ritual dan tarian yang disesuaikan dengan alunan musik menjadi media penghubung untuk menghadirkan sang gaib dalam upacara itu.
Dalam makalahnya tentang kesenian Tarawangsa, Aji Permana menggambarkan bahwa musik ritual dihubungkan dengan sesuatu yang berkaitan dengan upacara keagamaan atau kepercayaan yang diyakini oleh sekelompok orang atau masyarakat dalam rangka penyembahan dan penghormatan terhadap yang gaib. Dalam hal ini musik digunakan sebagai media transceiver menuju alam yang dihuni oleh makhluk halus. Adanya ruang sakral (suci, keramat) yang dibentuk oleh keyakinan yang dianut masyarakat, dan dengan musik manusia mengalami keterbukaan rohani melakukan penyesuaian dengan alam. Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan menyebutnya sebagai manusia yang transcendental (berdasarkan kerohanian), artinya manusia tidak terkurung (imanen) pada kehidupan dirinya, melainkan luruh terhadap kehendak alam. Pada dasarnya musik sakral untuk prosesi ritus dipengaruhi oleh keyakinan yang dianut oleh masyarakat pendukungnya. Musik sakral dapat digunakan sesuai dengan keinginan masyarakatnya, salah satunya musik yang dianggap keramat dapat digunakan untuk pengusir ruh jahat yang dapat memudarkan keteraturan yang sudah dijalin antara alam manusia dan alam gaib atau antara manusia dengan alam semesta. Selain sebagai media upacara syukur terhadap hasil bumi, keselamatan, dsb, musik ritual yang dinggap keramat itu dapat menimbulkan ketentraman batin yang meyakininya. Esensinya musik ritual yang sakral mempengaruhi emosi manusia, hingga menimbulkan kehalusan budi yang mendengarkannya.
Ritual dari bumi Rancakalong membawa pesan-pesan dalam hubungan manusia dengan alam. Penghormatan kepada sesatu yang gaib menyiratkan pesan bahwa ada keseimbangan alam semesta harus dijaga. Ucapan syukur atas hasil panen menggambarkan,kita sebagai mahluk hidup tidak boleh lupa akan kehadiran Yang Maha Esa dalam setiap apa yang kita peroleh. Manifestasi ucapan syukur memang tergantung nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, dan masyarakat Rancakalong bukanlah orang-orang yang lupa akan bersyukur,bukanlah manusia-manusia yang antroposentis atau menganut paham cartesian yang menempatkan manusia (akal) di atas segala-galanya.

Adi Surya
Penikmat Budaya
Bergiat Di GMNI Sumedang



           
           
           


0 komentar:

Poskan Komentar

Beri Komentar Anda Di Sini :