Demam Facebook Dan Kampanye Pemilu

Demam Facebook Dan Kampanye Pemilu

Perkembangan teknologi memang menentukan perilaku politik. Ada sebuah ungkapan di dunia politik bahwa siapa yang menguasai teknologi dan media, akan meraih kekuasaan. Setidaknya hal ini dipergunakan dengan baik oleh Presiden AS, Franklin D Roosevelt (FDR), memanfaatkan radio untuk menjelaskan kebijakan New Deal-nya kepada warga negeri Paman Sam tersebut. Dalam masa 1933 sampai 1944, pidato radio FDR yang dikenal sebagai fireside chats ini mampu membangkitkan semangat kepada warga Amerika yang moralnya amburadul karena imbas the great depression akibat Perang Dunia Kedua.Begitu pula John F Kennedy dan Richard Nixon yang memanfaatkan media televisi dan radio untuk berdebat untuk mensosialiasikan pikiran-pikiran mereka untuk memperebutkan jabatan presiden AS. Dan yang paling hangat adalah bagaimana Obama secara cerdas melihat peluang untuk mengunakan internet untuk melaju ke gedung putih.


Menjelang pesta demokrasi pada tahun ini, para caleg dan capres juga ternyata tidak mau dikatakan gagap teknologi untuk mendulang suara. Terinsprasi kemenangan Obama yang menggunakan media internet lewat Facebook dan Youtobe, politisi kita berama-ramai melakukan hal serupa. Media seperti blog,situs pribadi,group dan video–video kampanye bertebaran di dunia maya. Namun,jika kita membandingkan media-media yang digunakan oleh politisi kita untuk kampanye, Facebook merupakan media yang cukup diminati. Hal ini dikarenakan Facebook mewakili kampanye dialogis antara caleg atau capres dengan pengguna melalui fasilitas chatting dengan visualisasi gambar dan tulisan.Berbeda dengan Friendster,Blog dan video yang sifatnya hanya satu arah saja. Facebook dianggap bisa mengkombinasikan semua yang tidak dimiliki oleh media-media kampanye lainnya di dunia maya. Namun, pertanyaan yang penting untuk diajukan adalah,sejauh mana efektivitas kampanye melalui Facebook untuk mendulang suara.

Facebook dibuat oleh seorang mahasiswa Harvard, Mark Zuckenberg untuk saling mengenal bagai sesama mahasiswa Harvard. Pada September 2005 Facebook tidak lagi membatasi jaringannya hanya untuk mahasiswa., Facebook pun membuka jaringannya untuk para siswa SMU. Beberapa waktu kemudian Facebook juga membuka jaringannya untuk para pekerja kantoran. Dan akhirnya pada September 2006 Facebook membuka pendaftaran untuk siapa saja yang memiliki alamat e-mail. Perkembangan pesat pengguna Facebook begitu pesat,sampai-sampai beberapa intansi melarang karyawanya menggunakan media ini karena dianggap menggangu kinerja perusahaan. Sebagai sebuah jejaring sosial, Facebook memang menghadirkan fitur-fitur yang bisa mengorganisir komunitas maya sesuai dengan minat dan kesamaan.

Kehadiran internet memang telah merevolusi cara berinteraksi dan berpolitik.Kajian Schudson (2004) menunjukkan kaitan erat anatara demokrasi dan internet. Media ini sebagai media komunikasi dan pertukaran informasi,berpeluang merevolusi sistem,struktur dan proses demokrasi yang selama ini kita kenal. Dalam buku Firmanzah (2007) dikatakan bahwa pengaruh media massa dalam kehidupan politik merupakan kajian khusus dlam komunikasi politik. Media memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat (Klapper,1960). Media dianggap memiliki peran yang sangat penting dalam mentransmisi (relaying) dan menstimulasi permasalahan politik ( Negrine,1996). Sebaran jangkauan internet yang luas dianggap sebagai cara yang efektif untuk mensosialiasikan program kerja,isu,pesan politik untuk pembentukan citra.

Pembentukan citra untuk meraih popularitas merupakan konsekuensi logis dari demokrasi langsung. Ketika pada zaman orde baru,otoritas pendistribusian kekuasaan ada di tangan partai, maka hari ini Indonesia menerapkan demokrasi langsung dimana rakyat secara langsung memilih dan menempatkan wakil-wakilnya di eksekutif dan legislatif. Pemilu orde baru politisi tidak perlu beriklan secara massif,karena partai yang berwenang menentukan siapa saja yang akan masuk lingkar kekuasaan. Sedangkan era demokrasi langsung berbicara tentang figur yang ditentukan oleh rakyat. Dengan sistem ini,maka politisi langsung berhubungan dengan pemilih.Dengan rentang jumlah penduduk dan sebaran wilayah yang luas,maka media hadir sebagai jembatan untuk menghubungkan politisi dan rakyat.

Penggunaan Facebook sebagai media kampanye memang perlu kita kaji lebih jauh efektifitasnya dalam pemilu 2009.Pertama, jumlah pengguna internet yang masih sangat kecil persentasenya dibandingkan dengan negara-negara lain. Dalam situs www.internetworldstats.com,dari 6 milyar lebih penduduk dunia (6.676.120.288 estimasi th 2008) ternyata sudah ada 1 milyar lebih (1.463.632.361 jiwa) yang terdaftar sebagai pengguna internet. Sedangkan data pengguna internet di Indonesia. Dari jumlah total 237,512,355 jiwa penduduk Indonesia, saat ini (2008) sudah tercatat 25 juta lebih pengguna internet. Padahal pada tahun 2000 yang lalu, pemakai internet di Indonesia baru mencapai 2 jutaan orang. Ini artinya ada peningkatan sekitar 900%.

Kedua,pengguna internet khususnya Facebook berasal dari kalangan kaum muda dan berpendidikan menengah.Melihat mayoritas penduduk Indonesia yang belum melek teknologi dan berpendidikan rendah.Kampanye melalui Facebook hanya akan sedikit sekali berdampak pada peningkatan suara secara signifikan dan hanya sebatas sosialiasi saja. Ketiga,politisi kita belum kreatif untuk meramu strategi pengemasan materi-materi kampanye. Tampilan materi kampanye terkesan masih hanya sebagai perpindahan materi-materi yang ada di famplet.

Strategi politik memang harus memperhatikan realitas yang ada di masyarakat. Nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang merupakan modal dasar untuk melakukan marketing politik. Pendekatan marketing selalu berorientasi pasar untuk meramu segmentasi dan positioning politik. Schammel (1995,1996) menyebutkan bahwa kontribusi marketing dalam dunia politik terletak pada strategi untuk dapat memahami dan menganalisis apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pemilih. Mengikuti hal ini,sarana kampanye konvensional seperti door to door ke lapangan masih sangat berpengaruh. Penggunaan media kampanye melalui televisi juga dianggap masih sangat menentukan. Ini dapat kita rasionalkan dari jumlah mayoritas penduduk Indonesia yang memiliki dan menonton televisi.

Dari beberapa perbandingan di atas, kita melihat bahwa kampanye melalui internet khususnya Facebook belumlah efektif untuk meraih kemenangan pada saat ini. Namun,jika dilihat dari trend peningkatan jumlah pengguna internet dan Facebook,maka dikemudian hari kampanye di dunia maya akan menjadi suguhan yang menarik. Facebook bisa menjadi media alternatif untuk menciptakan digital democracy atau virtual democracy dimana isu-isu sosial politik ditransfer dan diperbincangkan dalam dunia maya. Dengan tampilan yang menarik dan kreatif,bukan tidak mungkin kesuksesan Obama bisa menjadi pelajaran berharga untuk membangun demokrasi.

Adi Surya P

Ketua DPC GMNI Sumedang 2007-2009

Bidang Hukum dan HAM KNPI Sumedang

Mahasiswa KS Fisip Unpad.

Ponari,Pergulatan Akal dan Kepercayaan

Ponari,Pergulatan Akal dan Kepercayaan

Fenomena dukun ponari membuat kita terpukau betapa nilai-nilai mistis masih menjadi batu sandaran yang begitu mengakar kuat dalam masyarakat kita. Ponari,hanyalah satu diantara praktik pengobatan alternatif yang katanya bisa menyembuhkan penyakit di negara ini. Perilaku-perilaku yang menjadikan hal-hal yang berbau gaib menjadi Tuhan adalah bukti kekalahan rasionalitas dan akal sehat. Masyarakat lebih percaya kuasa sebuah batu dibandingkan dengan alat-alat kedokteran untuk menyembuhkan penyakit. Memang hal-hal yang berbau mitos tetap diperlukan untuk menjaga keharmonian sosial. Tetapi ketika sudah beranjak meninggalkan jauh pertimbangan logis,hal ini tentunya adalah bentuk penyimpangan terhadap akal.
Pergulatan antara akal dan kepercayaan memang sudah tercatat dalam sejarah manusia. Setidaknya Socrates dan Aristoteles sudah memulai ini dengan mengkritik masyarakat pada zamannya yang dianggap sebagai masyarakat irasional. Aristoteles bahkan menteorikan ilmu berpikir benar melalui ilmu logika. Namun,seperti yang kita lihat,perilaku masyarakat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada dan tumbuh bersama masyarakat. Masyarakat barat bertumpu pada akal untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keduniawian dikarenakan nilai-nilai yang ada mengkonstruksi pola pikir seperti itu. Begitu pula pada fenomena ponari. Nilai-nilai mistis walaupun tidak terlalu kelihatan di ruang publik,masih mengendap dan diam-diam dipercaya sebagai kepercayaan.
Untuk melihat fenomena Ponari,ada beberapa pertimbangan yang bisa kita jadikan sebagai faktor penyebab. Pertama,persoalan akal ada dalam wilayah cara berpikir yang dikonstruksi melalui lembaga pendidikan. Tingkat pendidikan yang rendah tentunya membuat masyarakat menjadi irasional. Kedua,kendala struktural dari negara. Mahalnya dan buruknya kualitas pelayanan kesehatan akhirnya membangkitkan endapan nilai-nilai mistis sebagai jalan alternatif solusi pengobatan. Ketiga,lemahnya pemahaman agama. Peran agama kemudian menjadi dipertanyakan ketika Tuhan digantikan oleh benda-benda yang materil dan dianggap mewakili kuasa Tuhan. Dan terakhir,peran media televisi dengan tayangan-tayangan mistisnya turut berperan serta menciptakan masyarakat mistis.
Tentunya untuk merubah perilaku masyarakat diperlukan rekayasa sosial (social enggenering) oleh pihak–pihak yang berkepentingan. Insitusi kesehatan diharapkan berperan dalam melayani publik dengan baik. Bukan dalam arti menggratiskan pengobatan saja. Tetapi dalam aspek melayani secara sungguh-sungguh. Seringkali pasien yang berlabel gratis dianggap hanya sebagai beban sehingga pelayananya tidak sungguh-sungguh. Pemuka agama,istitusi pendidikan dan media massa juga adalah aktor-aktor yang selayaknya berperan dalam menciptakan masyarakat rasional dengan bertumpu pada nilai-nilai ketuhanan.

Adi Surya (UCOX)

Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial

Fisip Unpad

Aktivis GMNI.

Aku Selalu Bangga Punya Kau

Aku Selalu Bangga Punya Kau

Suara handphone berbunyi pertanda sms masuk di malam yang cerah. Bergegas kubuka dan aku melihat ada telkomsel call me dari sebuah nomor yang tentunya sangak akrab bagiku. Sebuah nomor yang selalu menemaniku. Dari pagi sampai nanti aku terjaga. Rasa bahagia bercampur benci bergelayut dalam hati. Untuk apa lagi dia menyuruhku menghubungi. Namun,lagi-lagi memang sampai mati aku takkan pernah bisa membencimu. Walau beribu salah,maaf akan selalu ada. Kuhubungi nomor itu. Dan...

Perjalanan hidup di dunia tentunya ada pertemuan dan ada perpisahan. Siapapun tidak bisa mengelak dari keniscayaan hukum kehidupan itu. Begitu juga aku. Pertemuan yang tidak disengaja 4 tahun silam memang sudah takdir Tuhan. Semua orang seolah bersukacita meributkan dan menyebarkan tentang kita. Takkan pernah cukup cerita yang bisa dituturkan dalam lembaran sejarah. Takkan pernah ada kata yang bisa mewakili pergulatan perasaaan saat bersamamu. Dan tidak akan ada yang benar-benar mengerti apa yang kita rasakan. Aku menggenggam erat tanganmu di sebuah sudut meja di pajawan. Kubisikkan di belakang daun telingamu “ aku akan mengambil jalan ini bersamamu”.

Tidak seperti yang diperkirakan banyak orang,ternyata cinta itu tidak lekang dimakan zaman.Bahkan kita pernah mengandaikan bahwa kita adalah dua ciptaan yang saling melengkapi. Yang satu tidak lengkap tanpa kehadiran yang lain. Hampir dalam keseluruhan kita berbeda dan saling mengimbangi. Bahkan aku sendiri pun tidak pernah percaya bahkan kita masih ada. Aku selalu tahu,cinta itu pasti akan menang. Tidak peduli aku sedang bersama siapa dan kau sudah punya yang lain. Seperti yang pernah kita ikrarkan,siapapun nanti yang jadi pendamping masing-masing,namun cinta itu masih milik kita berdua. Aku sangat paham itu.

Kini hari berganti merobek kelender. Musim tidak ketinggalan untuk berpindah tempat dan bulan pun ingin pergi ke belahan dunia lain. Kini aku pun merindumu. Saat-saat terindah yang seumur hidupku tidak akan terlupakan. Kau sudah kuanggap bagian dari separuh jiwaku. Kini,aku tak tahu dimana kau berada. Apa kabarmu dan sudahkah kau membaca buku-bukumu dan makan yang lahap.Hari ini bayanganmu hadir begitu kuat dan senyumku mengembang perlahan mengingat saat-saat itu. Aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Tidak akan pernah.

Kau tidak usah kwatir. Aku disini baik-baik saja. Kau tidak perlu membawakan sarapan pagi,karena aku sudah belajar makan di pagi hari. Kau tidak usah lagi ingatkanku jaga kesehatan karena pesanmu itu sudah mendarah daging dan kau tidak perlu sungkan lagi untuk datang kapan pun kau mau. Karena pintu sekre itu akan selalu menyambutmu. Jika kau tidak mau datang ,kau bisa hubungi aku lewat telfonmu. Seperti minggu-minggu yang masih bisa dihitung dengan jari. Tapak-tapak kakimu,suara ibu warung yang tiap hari bertanya tentangmu dan seekor anjing peliharaan yang mungkin sudah rindu akan bau parfum-mu. Kau tetap akan menjadi cinta dan teman bagiku.

Aku Cinta Kau Hp 2133-Miniku


Aku Cinta Kau Hp 2133-Miniku

Tujuan ketika di ihtiarkan terus menerus ternyata tidak mustahil terwujud. Hari ini aku sangat senang dengan teman baruku yang mungil dan centil Hp 2133. Aku sudah sejak lama ingin milikimu. Tampilanmu yang elegan membuatku tak bisa berpaling ke lain hati. Yang paling membuatku lebih bangga adalah biaya membeli netbook ini adalah hasil usaha menulis dan beasiswa. Tanpa sepeser pun kususahkan kantong orang tuaku.

Tapi kita jangan lupa bahwa teknologi diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Jangan biarkan teknologi yang memperbudak kita. Dalam arti, netbook ini harus produktif dan diberdayakan untuk menghasilkan sesuatu. Laptop atau mini notebook ini jangan hanya sekedar menjadi alat mati yang hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak menjadi fungsinya. Rencanaku dengan adanya mini 2133 ini, aku ingin lebih produktif lagi mencari ilmu pengetahuan dan menuangkannya dalam tulisan yang dipublikasikan. Sekali lagi, bahwasanya benda-benda diciptkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Memang benar kata orang bijak bahwa sesusah-susahnya tujuan yang tercapai dengan usaha sendiri hasilnya membuat kita merasa menjadi manusia yang ternyata cukup berharga. Satu target telah tercapai. Sekarang saatnya membuat target lainnya. Aku punya gambaran,kalau aku bisa menyelesaikan skripsi dan belajar bahasa inggeris dengan alat ini. Sekarang tinggal ihtiar lagi dan terus berusaha. Semoga setiap target bisa tercapai dengan memuaskan.

Perang Iklan dan Pasar Politik

Perang Iklan dan Pasar Politik

Logika sederhana untuk memahami perang iklan politik adalah menganalogikannya dengan pola interaksi dalam sebuah pasar. Di dalam pasar,ada pembeli dan penjual yang bernegosiasi untuk mendapatkan sebuah produk. Untuk mendukung penjualan produk,iklan kemudian menjadi media yang efektif untuk mensosialisasikan produk kepada pembeli. Titik persoalannya adalah masing-masing penjual berlomba-lomba mengiklankan produknya dengan klaim yang kadang direkayasa dan bertendensi saling memojokkan sesama penjual .Dalam pasar politik, persaingan antar kandidat melalui perang iklan dapat membingungkan publik,karena masyarakat dipaksa untuk menentukan pilihan dengan citra visual semata.


Aroma persaingan antar kandidat politik adalah hal yang wajar dalam negara demokrasi. Kebebasan yang dimiliki seorang individu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Artinya, ada etika yang harus dikedepankan dalam ruang kebebasan. Sejak menganut demokrasi langsung, iklan seolah menjadi mantra tunggal sebagai senjata merebut suara. Padahal sejak masa orde baru yang lebih didominasi otoritas partai,iklan tidaklah terlalu berkembang sebagai media komunikasi. Dari sini kita bisa melihat bahwa strategi politik kontestan pemilu mengikuti apa yang sedang berkembang di masyarakat.

Sebuah iklan sejauh mengutarakan hal-hal yang berguna bagi publik dalam mengambil keputusan politik adalah baik adanya. Namun, seringkali iklan yang muncul hanya mempertontonkan citra calon tanpa pesan yang mudah ditangkap publik. Dalam iklan politik secara umum memuat pengenalan calon dan isu/program. Di tengah maraknya iklan yang ada, kontestan harus jeli menangkap apa yang menjadi kebutuhan publik. Salah satu contoh iklan yang kurang mengena adalah perang iklan antara PDIP dan Jaringan Nusantara (Partai Demokrat). Kedua iklan hanya menonjolkan kesimpulan politik tanpa lebih rinci memberi rasionalisasi darimana kesimpulan diperoleh.


Dalam pasar politik, publik sebagai konsumen tidak boleh bersikap pasif. Masyarakat harus melakukan dialog kritis terhadap setiap iklan. Masyarakat harus bertanya siapa,apa,kenapa dan bagaimana sebuah iklan tersebut hadir di ruang publik. Dengan kondisi mayoritas penduduk yang belum melek politik, memang diperlukan partisipasi aktif publik untuk mendapat informasi. Untuk menjembatani hal ini, peran kontestan politik juga dituntut untuk menghadirkan iklan yang bermafaat bagi masyarakat. Pengumpulan informasi si pembuat iklan akan membantu menjernihkan pilihan publik. Dalam setiap pemilu idealnya rakyat-lah yang menuai kemenangan. Jangan sampai rakyat hanya menjadi korban dari pertarungan iklan kontestan sehingga memperburuk perkembangan demokrasi.


Program Pendidikan Anak Usia Dini

Program Pendidikan Anak Usia Dini

Latar Belakang

Pendidikan merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Oleh karena itu setiap warga negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan. Kebanyakan anak-anak Indonesia dalam memulai proses masuk ke lembaga pendidikan, mengabaikan pendidikan pada anak usia dini Padahal, untuk membiasakan diri dan mengembangkan pola pikir anak, pendidikan sejak dini utlak diperlukan. Saat ini, emang sudah ada kedasaran ke arah sana. Namun, dengan luas dan jumlah penduduk Indonesia yang besar, lemabag pendididkan anak usia dini masih bersifat seadanya dan banyak yang belum memenuhi kriteria pendidikan anak usia dini Desa Cinanjung adalah desa yang memiliki lembaga pendidikan anak usia dini. Salah satuny adalah PAUD AL-KAUTSAR. Meskipun sudah dapat dikatakan berjalan, yang kerap menjadi asalah adalah kekurangan sarana dan prasarana belajar dan bantuan lebih banyak pengajar.

Tujuan

1. Membantu PAUD Al-Kautsar dalam pemenuhan sarana dan prasarana

2. Mensosialisasikan hakikat PAUD kepada masyarakat, pengajar dan orang tua.

3. Membantu PAUD dengan menjadi mitra dalam belajar mengajar.

Sasaran

- Anak-anak Usia 3-5 tahun

Tempat dan Waktu

- PAUD AL-KAUTSAR, Desa Cinanjung

- Oktober - Januari

Hasil Kegiatan

Fokus dari kegiatan pendampingan ke PAUD Al-Kautsar adalah bagaimana mahasiswa KKN bisa membantu menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Pemilihan PAUD Al-Kautsar dilatarbelakangi karena PAUD ini maish baru berdiri dan masih jauh tertinggal dari PAUD lainnya yang ada di desa. Mahasiswa KKN pertama-tama melakukan proses sosialisasi melalui forum lokakarya awal di balai desa kepada masyarakat secara umum dan kepada pengajar PAUD secara khusus. Hasilnya pengajar PAUD dan mahaiswa KKN memeiliki pandangan yang sama dan komunikasi yang intens dengan pengajar PAUD.

Setelah mengidentifikasi. permasalahan yang ada di PAUD Al-kautsar,kami menemukan bahwa kebutuhan PAUD adalah sarana dan prasarana belajar serta pendampingan mahasiswa untuk anak-anak. Sebelumya mahasiswa KKN melakukan diskusi bersama pengajar PAUD tentang hakikat PAUD. Kebanyakan masyarakat umum salah memahami PAUD sebagai metode bermain sambil belajar dan bukannya belajar sambil bermain. Konsekuensinya, anak-anak lebih ditekankan untuk bermain dan belum saatnya untuk diarahkan kepada hal-hal yang belum waktunya. Untuk membantu persoalan ini, mahasiswa KKN kemudian mencari buku-buku untuk anak-anak usia dini sebagai bahan pelajaran tambahan. Buku-buku yang terdiri dari buku menggambar,menghitung dan menulis ini kemudian menjadi materi tambahan dalam proses belajar. Buku-buku yang diberikan,kemudian difotocopy dan menjadi tugas yang wajib diisi oleh anak-anak peserta PAUD di rumah. Ternyata, materi dan bahan-bahan ajar di PAUD Al-Kautsar masih minim dan buku-buku yang disumbangkan oleh mahasiswa KKN sangat membantu.

Kemudian mahasiswa KKN juga menyumbangkan alat-alat tulis dengan harapan anak-anak PAUD yang tadinya menggunakan alat tulis eadanya bisa lebih mudah untuk mengikuti standar pelajaran dan kurikulum PAUD. Seringkali materi ajar PAUD membutuhkan alat-alat tulis yang tidak dimiliki anak-anak. Dengan penggunaan alat tulis, anak-anak seakin mudah dan semangat untuk mengerjakan tugas dan pelajaran lain. Selain itu, mahasiswa KKN juga membuat proposal bantuan dana ke pemerintahan daerah untuk mendapat bantuan dana untuk membantu pemenuhan saran dan prasarana belajar anak..

Untuk membantu pengajar PAUD dalam mengajar,mahasiwa KKN sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh tim PAUD KKN,maka, kami membagi waktu dan turun langsung membantu mengajar di kelas Pada awalnya kami kesulitan dan canggung mengikuti materi yang ada Namun,seiring berjalannya waktu, mahasiswa KKN menjadi terbiasa dan bisa beradaptasi dengan situasi PAUD. Pengajar merasa sangat terbantu sekali, karena ada hal-hal baru yang selama ini belum terpikirkan untuk diterapkan seperti games dan materi tambahan dari mahasiswa KKN.

Dikarenakan waktu KKN hanya 3 bulan,kami ingin agar program ini berkelanjutan sesuai dengan tujuan setelah mahasiswa KKN selesai di lapangan, pengajar sudah paham akan tugasnya Untuk itu,kami sudah mengkounikasikan kepada direktorat PAUD Dinas Pendidikan Sumedang agar memberi pelatihan mengajar PAUD di PAUD Al-Kautsar tentang pengetahuan dan keterampilan dalam mengajar PAUD.

Kendala

1. Masyarakat yang belum terlalu menganggap PAUD sebagai hal yang penting

2. Keterbatasan pengetahuan mahasiswa dan pengajar tentang PAUD

3. Dana

Rekomendasi

1. Program PAUD disarankan dilajutkan oleh KKN gelombang berikutnya

Perguruan Tinggi, Pemilu Dan Pendidikan Politik

Perguruan Tinggi, Pemilu Dan Pendidikan Politik

Kedatangan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu ) ke Departemen Pendidikan untuk menjajaki kerjasama perguruan tinggi dalam pengawasan proses pemilu memberi makna bahwa perguruan tinggi sebagai lembaga strategis perlu memposisikan diri dalam pemilu.Kampus sebagai bagian dari elemen masyarakat sejatinya harus dilibatkan dalam mengawal proses transisi demokrasi di Indonesia. Kesalahan berfikir yang cukup fatal yang menghinggapi selama ini adalah kampus dianggap teritori yang harus bersih dari arena politik. Padahal sebagai pabrik penghasil intelektual, kampus memiliki sumber daya yang potensial untuk mengambil peran dalam arena politik. Sivitas akademika seperti dosen dan mahasiswa merupakan kaum intelegensia sebagai subjek aktif yang dapat dikatakan lebih melek politik dibandingkan masyarakat umum. Namun, disayangkan trauma politisasi kampus pada zaman orde baru mematikan insting peran politik kampus yang mengasingkan diri hanya berfokus pada urusan akademik. Rencana badan pengawas pemilu untuk melibatkan

Pada saat Mohamad Hatta berbicara di Kampus Universitas Indonesia pada tahun 1957, istilah inteligensia muncul ke percaturan pemikiran. Hatta mengingatkan bahwa dengan status sebagai kau terpelajar dan memiliki kedudukan dan peran yang penting dalam masyarakat justru mengimplikasikan tanggung jawab kaum inteligensia yang selalu mencari dan membela kebenaran. Bagi Hatta, kaum inteligensia dengan sendirinya memikul tanggung jawab besar, lebih besar dari golongan masyarakat lain, karena kualitas sebagai yang terpelajar. Kaum inteligensia memiliki kemampuan untuk menguji yang benar dan yang salah dengan pendapat yang beralasan,berdasarkan ilmunya.Disini kaum intelegensia dianggap sebagai kaum memiliki ilmu yang mengadung nilai-nilai moral.Oleh karena itu, kaum integensia memiliki tanggung jawab moril dan bukan hanya intelektual.

Peluit pelaksanaan masa kampanye pemilu 2009 sudah dibunyikan. Tentunya calon-calon kontestan yang mengikuti pertandingan politik akan mulai berlomba-lomba memenangkan kejuaraan lima tahunan ini. Inilah masa dimana partai politik (parpol) datang menjenguk konstituen dan merebut pemilih baru. Dalam waktu kampanye ini, setiap parpol punya strategi dalam merebut simpati masyarakat dan sebagai pemilih, publik harus cerdas melihat apa yang ditawarkan agar tidak terjebak dalam hingar bingar kampanye.

Dalam marketing politik, kampanye diartikan sebagai ajang para kontestan untuk memasarkan produk-produk politik yang ditawarkan untuk mempengaruhi publik agar membeli produk tersebut. Jika kita analogikan dalam ilmu marketing , produsen adalah partai politik, konsumen adalah rakyat dan pasar adalah masa kampanye. Logika ideal pasar adalah dimana produsen dan konsumen sama-sama memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Dalam artian, produk politik (isu atau program) harus memberikan kepuasan pada konsumen.

Namun, tenyata cita-cita politik hampir selalu berbeda dengan realitas politik. Parpol sebagai produsen hanya memandang hubungannya dengan konsumen adalah hubungan subjek – objek. Konsekuesi logisnya adalah rakyat dianggap hanya sebagai alat untuk memuluskan parpol untuk menggapai kursi kekuasaan. Setelah menang, parpol balik badan meninggalkan rakyat. Objek identik dengan pasif, dan pasif adalah gambaran matinya ruang interaksi dialogis dan lemahnya posisi tawar ( bargaining position) rakyat di mata parpol.. Disinilah kemudian peran kampus untuk mengambil posisi strategis untuk menjembatani hubungan politisi dengan rakyat yang menghasilkan hubungan yang saling menguntungkan tanpa harus mencederai idealisme dan intelektualitas elemen kampus.

Kampus tidak bisa lepas dari entitas masyarakat yang hanya fokus pada intelectual production. Setidaknya ini tercermin dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah pengabdian kepada masyarakat sudah cukup menunjukkan bahwa kampus bukan sarangnya para intelektual menara gading yang terpisah dengan pergulatan kondisi masyarakat. Bahkan sejarah indonesia merdeka dipelopori oleh perlawanan kaum terpelajar dengan penjajah kolonial. Dari sini kita ingin berangkat bahwa kampus tidak seharusnya alergi pada pemilu sebagai pertarungan kekuasaan. Melainkan berdiri di tengah dan menghibarkan bendera netral tapi aktif menjadikan pesta demokrasi lima tahunan ini bisa berjalan dengan baik dan bermanfaat bagi mayarakat.

Beberapa peran bisa diambil oleh kampus sebagai bentuk social control terhadap perubahan sosial. Pertama, peran pengawas. Kampanye tidak pernah luput dari kecurangan, sehingga merugikan investasi politik rakyat. Bentuk-bentuk kampanye yang tidak mendidik hanya akan memberi pendidikan politik yang tidak sehat bagi rakyat. Dosen dan mahasiswa bisa juga melakukan riset sebagai pembanding dan rujukan bagi perkembangan politik yang ada. Kedua, peran fasilitator. Mahasiswa dan dosen tidak boleh anti politik. Karena kita semua adalah zoon politicon yang selalu hidup dan dipengaruhi oleh proses politik. Calon-calon yang belum dikenal rakyat, diperkenalkan melalui forum atau pun acara-acara yang diprakarsai kampus. Ini sebagai bentuk peran menjembatani masyarakat dengan calon, agar masyarakat tidak membeli kucing dalam karung. Ketiga, peran advokat. Ketika proses kampanye melanggar hak-hak masyarakat, maka kampus juga bisa menjadi pembela hak-hak rakyat . Keempat, peran educator. Dengan tingkat pendidikan mayoritas masyarakat kita yang belum melek politik, maka pendidikan politik bagi masyarakat sebenarnya bisa diambil oleh mahasiswa. Elemen kampus yang memiliki tingkat intelektualitas yang lebih harusnya mau turun ke masyarakat sebagai pengejawantahan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Untuk menciptakan kehidupan yang demokratis, maka partisipasi seluruh elemen masyarakat menjadi syarat penting. Namun, partisipasi kampus dalam mengawal proses kampanye, jangan luntur dikalahkan politik uang. Banyak realitas yang terjadi di lapangan, kalangan intelektual kampus justru menjadi broker politik, bahkan mengorbankan idealisme demi pragmatisme sesaat. Partai bisa saja menggunakan potensi mahasiswa dan dosen demi mendukung hasrat kekuasaan. Untuk itu, kampus harus berdiri netral dan jangan bermain di wilayah “ abu-abu “. Biarlah wilayah politik praktis menjadi kawasan para elit politik dan posisi intelektual kampus jangan sampai menjadi politikus karbitan yang masih muda namun sudah berperilaku seperti politikus busuk.

Adi Surya P

Ketua DPC GMNI Kab. Sumedang

Bidang Hukum dan HAM KNPI Sumedang

Mahasiswa Kesejahteraan Sosial

Fisip Unpad

Di Dalam Keheningan

Di Dalam Keheningan


Untukmu...
yang telah berhasil mengangkatku dari rasa sedih dan terpuruk, membuatku merasa penting dan istimewa, menemaniku di pagi, siang, dan malamku...
Terima kasih untuk telah hadir dan menyeka setiap tetes air mataku dan memberi tawa dalam sepanjang hariku..cinta




Di dalam gelap pun ku merasa terang
Di kala mati pun ku merasa tetap hidup
Di saat perang ku rasakan damai
Di dera benci pun kerasakan cinta
Jika Bersamamu..bersamamu

Mencoba untuk terus melangkah
Berpegang erat untuk tak jatuh dari garis kematian
Melawan ombak menahan badai
Merelakan sebelah jantungku, membunuh rasa sakiku
Semua Untukmu..untukmu

Kan kupetik bintang temani bulanmu
Kuhapus awan agar tak halangi pancaranmu
Kupadamkan neraka agar hanya ada surgamu
Kuhapus benciku agar tersisa cintamu
Kuhembuskan nafasku untuk hidupmu
Hanya untukmu…
Ada hitam dan putih
Ada besar dan kecil
Ada gelap dan terang
Ada siang dan malam
Ada aku dan kamu
Sekali lagi, Aku dan kamu…

REFORMASI INTERNAL DAN EKSTERNAL GMNI

REFORMASI INTERNAL DAN EKSTERNAL GMNI

MERDEKA !!! MENANG !!! JAYA !!!


Berubah atau Mati !!!

Bernard Shaw pernah berujar “Progress is impossible without change,and those who cannot change their minds cannot change anything”. Di zaman yang semaikin kompleks ini, change (perubahan) adalah harga mati untuk mendapat tiket menuju keberhasilan. Pada tahun 1992,Bill Clinton terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat dengan pesan komunikasi politiknya yang berbunyi Change. Kekuatan pesan ini pula yang kemudian mengantarkan Obama menuju kursi gedung Putih. Fenomena ini juga melanda bidang lain seperti teknologi,birokrasi,lembaga pendidikan dan bidang-bidang lain yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan semangat zaman.

GMNI dalam perjalanan sejarahnya selalu menghadirkan narasi sejarah konflik dan selalu tertinggal dalam era persaingan ini. Selama 54 tahun,pasang surut perkembangan organisasi selalu lebih mendominasi daripada prestasi. Konflik,merosotnya kualitas dan kuantitas kader, penjabaran dan pembumian ideologi yang mandul,buruknya manajemen organisasi membuat kita tidak pernah mengangkat topi tanda kebanggaan. Artinya, saya hendak mengajak kita untuk sama-sama berpijak dan sepaham bahwa kita mau tidak mau,suka tidak suka harus berubah kalau tidak mau diubah..

Visi :

Misi :

1. Mendorong reformasi kebijakan publik yang dapt meningkatkan derajat kehidupan kelompok marjinal

2. Memperkuat inisiatif lokal agar dapt memperjuangkan upaya peninngkatan derajat kehidupan kelompok marjinal

3. Mendorong terjadinya sinergi antara proses-proses kebijakan publik dengan penguatan inisiatif lokal.


Analisis Internal dan Eksternal Organisasi


Strenght

Weakness

Opportunity

Threatment

Dasar ideologi menjadi ideologi bangsa


Konflik internal organisasi


Dapat Membangun gerakan yang jelas

Perpecahan dan lambannya organisasi karena kehabisan energi

Struktur organisasi terdapat hampir diseluruh propinsi di Indonesia (kecuali NAD

Rendahnya tradisi intelektual


Kerja-kerja yang terstruktur dan sistematis

Kader bergerak tanpa adanya sebuah pijakan ilmiah yang bersifat akademis.

Kader sebagai Jaringan kerja tersebar di berbagai bidang



Rendahnya tradisi organisatoris


Gerakan yang massif

Kader bersifat pragmatis dan elitis.

Organisasi yang

Tidak berwibawa.

Alumni yang tersebar dalam berbagai bidang

Minimnya Kordinasi dan Komunikasi Antar sesama Struktur (presidium,DPC dan Komisariat )

Supporting System Untuk mendukung kerja-kerja organisasi

Perpecahan dan konflik.

Reformasi dan Demokratisasi

Gerakan yang berorientasi pada aksi reaktif

Ruang gerak yang luas untuk menyebarkan ideologi dan menyikapi persoalan kebangsaan

GMNI tidak akan dianggap sebagai organisasi yang sulutif

Perubahan Teknologi Di bidang komunikasi dan informasi

Gagal membangun komunikasi dan hubungan strategis dengan masyarakat

Menjadikan perubahan teknologi sebagai salah satu alat perjuangan GMNI yang berskala luas.

Organisasi tidak akan


Buruknya Kemandirian Dana


Kader-kader pragmatis


Distribusi kader ke posisi-posisi strategis lembaga sosial politik yang minim


Organisasi tidak akan diminati lagi dan perlahan akan menuju kehancuran.


Intervensi Kepentingan elit partai ke tubuh organisasi


Arah perjuangan disetir oleh kepentingan individual atau kelompok.


Kebijakan tentang Dilarangnya organisasi GMNI untuk masuk kampus


GMNI tercerabut dari akarnya sedniri yaitu kampus


Citra Organisasi yang negatif


Pandangan negaatif terhadap organisasi sehingga tidak akan bisa tumbuh.


Gagal mendefenisikan dan menyesuaikan ideologi dengan semangat zaman.


Ideologi Marhaenisme akan kehilangan dan bisa mati karena tidak ada penyesuaian.


Jaringan strategis dan taktis yang minim.


Terkucil dan Program-program yang sulit berjalan.














Kristalisasi Masalah

  1. Lemahnya dan tidak terstrukturnya pola kaderisasi

  2. Manajemen Organiasasi

  3. Komunikasi dan Jaringan

  4. Format Gerakan

  5. Kemandirian Dana

  6. Tidak ada kedaulatan Politik Organisasi

  7. Konflik Internal

  8. Penataan ,Profesionalisme dan Citra Organisasi


Melangkah Ke Depan

Ada 3 konsepsi yang dituntut perubahan :

  1. Melihat

  2. Bergerak

  3. Menyelesaikan







Pemimpin diibaratkan sebagai mata yang bukan sekedar bergerak secara acak,melainkan seseorang yang melihat sesuatu secara visioner,sesuatu yang tidak kelihatan atau belum dilihat banyak orang. Maka persoalan pertama kita adalah membukakan mata orang untuk “melihat”. Untuk itu perlu sebuah rumusan dan gagasan yang dianggap memberi angin segar optimisme untuk kebangkitan organisasi.



DI BIDANG ORGANISASI

Isu : 1. Penataan ,Profesionalisme dan Citra Organisasi


Dalam hal pengembangan organisasi komisi organisasi membagi menjadi dua hal penting yaitu dalam bidang internal dan eksternal ,penjelasannya yaitu

Internal :

1. Struktur Organisasi

Mengevaluasi kinerja presidium yang dapat dikatakan lambat dalam kerja-kerja organisasi diakibatkan karena tidak adanya kesatuan dan lemahnya penghormatan terhadap struktur membuat GMNI butuh struktur organisasi yang bisa mengambil keputusan yang cepat dan tepat.

2. Penataan dan profesionalitas berorganisasi ( administrasi dan financial )

  1. Pimpinan nasional hendaknya memiliki kemandirian dalam bidang administrasi untuk meningkatkan kinerja organisasi.

  2. Pimpinan nasional hendaknya memperbaiki dan mengembangkan alat-alat administrasi yang telah ada dan yang dibutuhkan.

  3. Diperlukanya suatu strategi atau bentuk program realistis dari pimpinan nasional dalam mengusahakan kemandirian dana .

  4. Disamping hal tersebut, pimpinan nasional ke depan, dipandang perlu untuk melakukan penyeragaman teknis surat-menyurat, yang meliputi, kop surat dan stempel organisasi, nomor surat dll. Selain penyeragaman teknis surat menyurat,juga harus melakukan penyeragaman perangkat-perangkat organisasi, berupa, bendera, seragam organisasi.


3. Sekretariat dan Sarana Prasarana

Merekomendasikan pimpinan nasional untuk mengadakan sekretariat yang bisa mendukung dan mewadahi GMNI seluruh Indonesia.

4. Pemahamam beorganisasi dan kaderisasi

Pimpinan nasional harus menemukan cara untuk menambahkan rasa cinta terhadap GMNI (meningkatkan rasa sense of belonging )

5. Program kerja yang realistis

Pimpinan nasional harus memiliki program yang jelas ke depan yang dijelaskan di komisi program dan kaderisasi.

6. Citra Organisasi

Pimpinan nasional hendaknya memiliki divisi / bagian untuk mempublikasikan dan mendesain citra GMNI agar lepas dari stigmaisasi dan familiar di tengah masyarakat sebagai organisasi yang memperjuangkan kaum marhaen.

Eksternal :

1. Hubungan dengan sesama organisasi

Hubungan antar organisasi dan membangun jaringan hendaknya digunakan untuk pembangunan ke dalam organisasi

2. Hubungan dengan masyarakat

Untuk pengembangan organisasi pimpinan nasional bersama DPC se-Indonesia harus berhubungan dan senantiasa ada dengan masyarakat.

3 Pengarahan program kerja

Program-program kerja yang sesuai untuk merespon kondisi zaman.



PROGRAM-PROGRAM UNTUK KEORGANISASIAN

Internal

  1. Konsolidasi organisasi yang terprogram dan sistematis melalui forum dan kegiatan baik itu skala nasioanl maupun regional.

  2. Penertiban administrasi meliputi pendataan dan pembentukan cabang-cabang baru.

  3. Mengupayakan sekretariat dengan fasilitas keorganisasian seperti Komputer, Internet, Printer,Telepon/Fax dan sebagainya yang mendukung program kerja.

  4. Membentuk divisi / komite/ struktur yang membawahi bidang pemasaran GMNI.

  5. Membuat Panduan Organisasi (PO) agar ada sinergisitas anatar seluruh elemen GMNI. Menyangkut.

  6. Menjalin kerjasama dengan lembaga negara atau swasta yang simbiosis mutualisme untuk memperoleh kemandirian dana selama tidak bertentangan dengan aturan main organisasi.

  7. Menjalin kerja sama dengan Korda untuk membuat acara kaderisasi dalam tiap regional.




DI BIDANG KADERISASI

Isu : Format kaderisasi, Lemahnya budaya Intelektuasl dan tumpulnya pemahaman ideologi


Kemerosotan organisasi yang terjadi selama ini bermuara pada proses kaderisasi yang lemah dan tidak berkembang. Kaderisasi menurut AD/ART GMNI terbagi atas Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD), Tingkat Menengah (KTM) dan Tingkat Pelopor(KTP). Dari tujuan umum kaderisasi dapat dimaknai sebagai :

  1. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan ideologis.

  2. Memiliki kemampuan dan keterampilan politik.

  3. Memiliki kesadaran dan militansi berorganisasi

  4. Memiliki kepekaan dan keberpihakan sosial.


Materi dan Metode Kaderisasi


Dalam dunia pelatihan, ada yang dikenal dengan konsep andragogi yang berarti merancang sesuatu secara bersama anatara pembicara dengan pesereta, dengan mengedeapnkan dialog dan saling argumentasi anatar peserta pendidikan.

Dalam pelatihan/kursus yang dihadiri olrang dewasa,dibutuhkan suatu metodologi yang sangat berbeda dengan sekolah konvesional. Namun,demikian,banyak sekali metode pelatihan konvensional ditiru dan diturunkan secara mentah-mentah dan diterapkan dalam kegiatan pelatihan andragogi. Hal ini bertentangan dengan konsepsi diri,pengalaman,orientasi belajar dan kesiapan belajar peserta.Kondisi yang kondusif dan dinamis akan turut mendukung pemberian materi yang dialkukan secara dialogis partisipatoris.

Metode Penyampaian Materi

  1. Ceramah

Suatu metode penyampaian materi tanpa banyak partisipasi dari peserta dalam bentuk pertanyaan,kritik atau diskusi.

  1. Brainstorming

Pemateri menyampaikan suatu masalah kepada peserta dan mereka diminta untuk mengajukan pendapat dalam suasana cair dan tidak ada pendapat salah atau benar.

  1. Dialog

Dialog merupakan proses dialektis. Pihak-pihak yang berdialog mempunyai pengertian tertentu terhadap sesuatu yang didialogkan.

  1. Diskusi

Diskusi adalah pertukaran pendapat,perasaan,pengalaman antara dua orang atau lebih tentang topik tertentu yang menarik perhatian.

  1. Studi Kasus

Merupakan landasan diskusi yang bersifat analitis dan landasan bagi pengembangan alternatif-alternatif pememcahan persoalan.

  1. Role Play (permaiann peran/simulasi)

  2. Praksis

Metode daur aksi dan refleksi yang dilaksanakan secara sadar dan berkesinambungan. Setiap aksi perlu diikuti dengan refleksi,analisis dan dinilai agar dapat diketahui kelemahan dan menarik pelajaran.

  1. Outbound

Kegiatan outdoor (luar ruangan) yang dilakukan dengan penekanan utama pada pengembangan tim dengan menyajikan masalah yang memerlukan pemecahan melalui kerjasama tim.




Untuk mendukung hal tersebut kiranya pimpinan nasional harus melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Format kaderisasi dalam sebuah buku / silabus yang berisi Pemahaman Ideologi, Ke-GMNI-an, materi –materi yang mendukung dan relevan dengan tujuan organisasi dan perkembangan zaman.

  2. Distribusi kader ke dalam posisi-posisi strategis.

  3. Adanya bentuk punisment dan reward bagi cabang-cabang yang dianggap berprestasi membangun GMNI.

  4. Membuat diskusi,forum,lokakarya,seminar atau acara-acara yang dapat menambah dan memperkaya pemahaman kader akan perjuangan GMNI.

  5. Melaksanakan Kaderisasi Tingkat Pelopor.

  6. Membuat lomba–lomba yang berkaitan dengan kaderisasi seperti lomba penulisan.

  7. Bekerjasama dengan lembaga-lembaga/organisasi lain/instansi untuk kepentingan transformasi pengetahuan dan keterampilan.



DI BIDANG POLITIK

Isu : Intervensi Elit,Konflik Kepentingan,Demokrasi Prosedural, Liberalisme,Pemilu 2009 dan Isu-isu kerakyatan.

  1. Sikap politik Pimpinan Nasional

  2. Pemetaan politik

  3. Peluang aliansi strategis dan taktis

  4. Ideologisasi dan Massifikasi Gerakan

  5. Advokasi Kebijakan dan Pengorganisiran Rakyat


Pertama, melihat dan mengamati perkembangan yang ada dan terjadi di dalam masyarakat, terutama dalam menghadapi euforia demokrasi yang menuntut adanya keterbukaan di seluruh aspek kehidupan masyarakat, maka GMNI mendatang :

  1. Turut berperan serta dalam proses pembangunan politik nasional-regional dan lokal, dengan menitikberatkan pada pengawasan jalannya proses demokrasi .

  2. Ikut ambil bagian dalam proses pendidikan politik yang dapat mendukung pembangunan politik di tingkat masyarakat secara umum.


Kedua, mengamati perkembangan yang terjadi, GmnI melihat adanya suatu faham yang memberikan pengaruh yang cukup luas, yaitu fundamentalisme agama dan liberalisme. GmnI memandang perlu untuk menyikapi berkembangnya fundamentalisme agama dan liberalisme ini karena dalam penerapannya dalam politik, berpotensi memunculkan adanya suatu sistem negara yang teokrasi yang hanya didasarkan pada keyakinan satu agama saja, yang menimbulkan indikasi ketidakadilan dan tidak adanya kebersamaan yang justeru bertolak belakang bahkan bertentangan dengan asas dan prinsip GmnI.

Selain itu, adapun dalam menerapkan suatu faham, GmnI menyadari bahwa diperlukan instrumen-instrumen yang dapat dijadikan sebagai alat penyokong utamanya. Dalam hal ini menuntut DPC GmnI mendatang untuk mengambil sikap terhadap organisasi dan kelompok-kelompok yang bertolak belakang dengan GmnI baik di tingkat nasional maupun lokal.

Ketiga, dalam menentukan peluang aliansi strategis dan taktis, maka GmnI perlu mendasarkannya pada pemetaan politik yang ada, dimana dianggap suatu yang perlu untuk menjadi aliansi dengan organisasi-organisasi yang sejalan dengan GmnI dan di satu sisi juga harus menguatkan diri melalui konsolidasi sehingga tercipta adanya GmnI yang berkekuatan mandiri.

Keempat, dalam hal ideologisasi gerakan, GmnI memandang hal ini menjadi suatu yang cukup penting, karena memiliki pemahaman bahwa ideologisasi/proses penanaman ideologi gerakan memiliki substansi yang cukup vital, yaitu adanya suatu pergerakan. Pergerakan ini merupakan suatu konsekuensi bagi GmnI yang telah mendeklerasikan dirinya sebagai organisasi gerakan.

Kelima, menjalin kerja sama dengan pers dan lembaga-lembaga/instansi pememrintah atau swasta dalam kerangka kemitraan strategis untuk mendukung kerja organisasi. Perjuangan untuk rakyat marhaen tidak selamanya anti pemerintah,tapi kita bisa membantu pemerintah melalui program-program yang sesuai dengan visi misi organisasi.

Keenam,berpartisipasi aktif dalam pemilu 2009 dengan peran fasilitator dan educator untuk memeberikan pendidikan politik pada masyarakat. Disamping itu,GMNI sebagai agent of social control juga harus mengawasi pelaksanaan pemilu 2009 dari politisi-politisi busuk.Semisal membuat lembaga taktis yang fokus pada gerakan anti poitikus busuk.

Ketujuh,advokasi kebijakan. GMNI selama ini hanya mampu dalam tataran gerakan protes tanpa solusi. Ke depan GMNI harus mampu menawarkan solusi apakah berbentuk konsep tandingan versi GMNI untuk menjadi masukan bagi pengambil kebijakan. Diharapkan uapaya ini akan membuat bargaining position GMNI akan lebih tinggi.

Kedelapan, melakukan aksi-aksi serentak dan memiliki isu yang sama untuk menyikapi momen-momen tertentu. Massifikasi gerakan ini selain membawa efek “boal salju” juga membuat GMNI semakin dikenal oleh rakyat sebagai organisasi perjuangan rakyat marhaen.

Kesembilan,pengorganisiran rakyat.Untuk mendukung pola advokasi kebijakan,sudah menjadi hukumya GMNI ada di tengah masyarakat.Pengorganisiran dalam kerangkan community development dan massa aksi dalam merespon krisis ekonomi dan politik yang menyengsarakanrakyat akan membuat rakyat memiliki daya tawar yang tinggi di hadapan pemerintah, sehingga kesewenang-wenangan penguasa akan terminimalisir.


Ucox Unpad

Ketua DPC GMNI Sumedang